Monday, 14 March 2011

Rumah - Fenomena Rumah di Komplek Perumahan

Kecendrungan rumah di komplek-komplek perumahan dimana seluruh kaveling dijadikan bangunan dan hanya menyisakan sedikit saja lahan untuk ruang terbuka pada bagian depan halaman rumah, disamping samping kiri dan kanan bahkan belakang rumah sudah ada rumah lain alias rumah-rumah tetangga, yg batasnya cuma dinding doank. Akibatnya semua rumah tidak mendapat matahari dan udara yang cukup. Saya mencoba mencari tahu kenapa kecendrungan ini terjadi sehigga saya menduga ada beberapa penyebab.

Rumah Kopel: Rumah dasar yang dibeli adalah rumah kopel dimana rumah dijejer dalam sebuah block saling berhimpit pada ketiga sisi kaveling nya; kiri, kanan, dan belakang. Biasanya rumah akan kekurangan udara, kurang cahaya matahari, lembab, pengap dan tidak sehat. tidak ada pilihan lain bagi pemilik rumah selain merenovasi ulang, namun untuk merenovasi rumah kopel bukan perkara gampang. Dalam hal ini anda harus memperhatikan tetangga anda karena rumah kopel berdinding dan beratap menyatu, rumah hanya memiliki satu atap dengan tetangga kiri dan kanan. Dindingnya pun demikian, untuk renovasi nya Anda perlu mengubah dinding dan atap menjadi terpisah. Tentu ini agak rumit, biasanya ketika merenovasi atap, pemilik rumah mesti membuat dinding serta struktur baru untuk menyangga atap. Ingat… sebagian rumah anda adalah rumah orang.
Penataan rumah kopel seperti halnya menyusun puzzle game. Semua pola sudah terukur dan tidak bisa rubah, satu gambar dirubah maka harus merubah gambar pada puzzle yang lain. Disini saya memaksudkan bahwa Kalaupun anda memutuskan tetap membeli rumah kopel maka pikirkanlah kenyamanan anda dalam bertetangga karena merenovasi rumah kopel harus saling pengertian. Bisa saja rumah desain kopel awal sudah bagus, dalam arti mempunyai penghawaan dan pencahayaan yang baik. Namun apa anda tidak bisa memastikan bahwa tetangga anda tidak akan merenovasi rumahnya?
Beberapa perkiraan solusi modifikasi untuk rumah kopel dengan pencahayaan sun roof atau dengan bukaan ventilasi cross vertikal dengan membuat void hanyalah untuk yang sudah terlanjur membeli rumah kopel saja.

Ingin menambah ruangan: sebut saja rumah yang dibeli bukan rumah kopel, sebuah rumah perumahan yang menyisakan lahan kosong pada bagian samping dan belakang rumah walau sedikit. Permasalahn ini dimulai ketika pemilik rumah ingin menambah kamar pada sisa kaveling nya, alasannya bisa bermacam-macam misalnya saja untuk ruang tidur tamu yang berkunjung, untuk ruang anaknya, untuk ruang bekerja, untuk garasi mobil yang satunya lagi,  dan bahkan untuk alasan sepele seperti menambah ruangan saja ketimbang dibiarin kosong. Nah bayangkan apabila anda berpikir demikian dan tetangga anda juga berpikir demikian kemudian kemudian saling berlomba membuat dinding masif yang baru.
Hasilnya akan sama saja seperti masalah rumah kopel tadi, selanjutnya anda berpikir untuk merombak bangunan dengan meninggikan dua lantai dengan harapan sebagai perangkap udara ke arah void (ruang kosong dari lantai dua ke lantai satu) untuk mendapatkan angin (udara), selanjutnya tetangga anda pun berpikir demikian. Mulai lagi saling berlomba untuk meninggikan bangunan. Kasian sekali apabila ada orang yang kurang biaya untuk meninggikan rumahnya.
Asumsi saya diatas bukanlah survey, hanya terlintas saja dalam pikirasn saya tentang kecendrungan membangun rumah tanpa memikirkan ruang terbuka untuk penghawaan dan penerangan alamiah sehingga anda tidak perlu menyalakan lampu disiang hari dan menyalakan pendingin ruangan ketika berada didalam rumah. Segala masalah teknis tentu saja ada solusi teknisnya, namun kenapa kita harus memaksakan diri yang akhirnya justru merugikan dan membuat tidak nyaman. yang paling penting adalah efisiensi dan efektifitas, dari awal semua menginginkan rumah hemat, sehat dan nyaman justru menjadi rumah yang boros energi , mahal untuk renovasi, tidak sehat dan jauh dari kenyamanan.
Jangan memaksakan untuk membangun tanpa memikirkan perencanaan untuk kenyamanan dan kesehatan dalam rumah. Karena ruang yang nyaman bukan hanya berupa dinding masif yang justru membuat anda merasa terkunci didalam tanpa bisa menikmati udara, sinar matahari serta pandangan yang tidak leluasa.
Anda juga bisa membuka pikiran anda untuk membeli tanah yang lokasinya agak ke pinggir kota, dengan harga murah anda mendapatkan lahan yang luas dan anda leluasa berekplorasi, tentu saja yang selaras dan ramah lingkungan. Semoga bermanfaat.

sumber gambar: puzzlepuzzlekehidupan.blogspot.com

No comments: