Saturday, 7 May 2011

Shelter Guideline - H.I Project

PROJECT   :SHELTER GUIDELINE.
OWNER       : HANDICAP INTERNATIONAL
Indonesia menjadi negara yang paling rawan terhadap bencana di dunia berdasar data yang dikeluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana (UN-ISDR). Indonesia menduduki peringkat tertinggi untuk ancaman bahaya tsunami, tanah longsor, dan gunung berapi serta menduduki peringkat tiga untuk ancaman gempa serta enam untuk banjir.
Setiap bencana selalu ada korban, baik korban jiwa maupun korban perekonomian, Pendidikan serta hunian.
Hunian adalah kebutuhan pokok manusia, sehingga pemerintah serta pihak non pemerintah harus memikirkan nasib mereka yang terkena bencana. biasanya para korban akan ditampung oleh famili atau pada hunian sementara berupa shelter.
korban akan menetap sementara disana sampai hunian tetap /rumah mereka selesai diperbaiki setelah rusak akibat bencana.
lokasi shelter sangat bermacam-macam. ada yang harus direlokasi karena masih ada efek ancaman bencana susulan, seperti gunung berapi atau  banjir lahar dingin dan hawa panas erupsi, mereka harus menunggu keputusan dari pemerintah mengumumkan bahwa sudah aman untuk kembali ke lokasi asal. Shelter untuk kondisi demikian biasanya adalah shelter yang temporary (non permanent) yakni shelter akan dibongkar dan kembali dibangun di lokasi asal korban. mereka sementara akan mendiami lagi shelter ini sampai hunian permanen mereka selesai diperbaiki.
Ada juga lokasi shelter yang langsung dibangun di lokasi bencana, biasanya bencana gempa bumi, shelter tetap bisa dibangun dilokasi semula namun demikian harus diperhatikan bahwa shelter sangat aman untuk didirikan dari ancaman lain seperti; seperti tidak mendirikan shelter di bawah pohon yang mudah tumbang, dekat bangunan yang hampir rubuh atau didaerah yang kemiringan rawan longsor. ini sangat banyak sekali tergantung dari lokasi bencana.

Shelter adalah hunian sementara, bukan tetmpat tinggal yang tetap, para korban pada saat tertentu akan bosan dengan kondisi hidup tinggal di shleter. mereka tetap akan pulang kelokasi semula dan biasanya shelter menjadi terbengkalai karena didesain/direncanakan betul-betul untuk temporary.
Namun demikian untuk membangun kembali sebuah rumah yang rusak akibat bencana baik itu rusak berat ataupun rusak ringan sangat berat buat mereka yang baru ditimpa musibah dengan hanya mengandalkan subsidi uang dari pemerintah, ditambah lagi dengan beberapa kondisi ada anggota keluarga bahkan kepala keluarga yang cacat akibat bencana.

Kondisi inilah yang harus menjadi perhatian bersama terutama rekan-rekan yang bergerak dibidang rekonstruksi bencana terutama pembangunan shelter. bahwa sebaiknya shelter didesain dengan mempertimbangkan keberlanjutan untuk dikembangkan menjadi hunian permanen. artinya korban tidak harus memulai dari nol untuk membuat hunian. mereka sudah ada modal awal shelter yang akan dimodifikasi menjadi hunian permanen.
desain yang ideal tentunya sangat tergantung dari lokasi, kita harus melihat aspek positif dari lokasi bencana baik berupa material bangunan maupun tata cara pekerjaan shelter yang tentu saja catatan-catatan tersebut diperoleh dengan melibatkan mereka dalam desain serta membuat panduan supaya mereka mengetahui dimana keterlibatan mereka.
Adalah Handicap International (HI) yang melakukan misi bantuan kemanusiaan terhadap korban bencana Gempa di Sumatra Barat- Indonesia, mandatnya HI akan memberikan bantuan shleter untuk korban bencana yang didalam nya ada anggota keluarga cacat karena bencana karena pada dasarnya HI bekerja untuk orang cacat dan yang memiliki mobilitas gerak rendah.
Pertimbangan ini karena shelter untuk penyandang cacat tidaklah sama dengan shelter untuk orang yang tidak cacat, ada perlakuan khusus untuk aksesibilas penghuni dari dan menuju shelter serta untuk ke kamar mandi. perlakuan ini sangat spesifik tergantung dari jenis kecacatan yang diderita.
Dalam desain awal adalah berupa modul ukuran shelter yang tergantung dari jumlah anggota keluarga, anggota keluarga yang banyak akan mendiami shelter yang ukuran lebih besar dari shelter untuk keluarga yang kecil.
Karena lokasi korban bencana yang terkena cacat tidak terpusat pada satu permukiman atau desa akan menyulitkan untuk sosilalisasi sehingga disediakan buku panduan berisi langkah langkah dalam membangun shelter HI.
Buku panduan ini dibuat dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dengan pertimbangan dapat digunakan oleh orang lokasl dan pihak NGO asing.
Pada dasarnya pemikiran untuk membuat shelter sangatlah luas, namun disini hanya sekedar untuk berbagi dan semoga menjadi bahan dasar untuk pengembangan yang lebih baik. 

















Manual guidline ini disusun oleh tim : Philipe pascal - project manager, M. Ridaha Agusni - Architect-Engineer, Eric - Field assesment and coordinator

No comments: